Berikut
ini adalah teks, transliterasi, terjemahan, spesifikasi, keutamaan surat dan
kutipan sejumlah tafsir ulama atas surat At-Tin ayat 1-3:
وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِۙ
وَطُوْرِ سِيْنِيْنَۙ
وَهٰذَا الْبَلَدِ الْاَمِيْنِۙ
Tarjamahan :
1. Demi Buah Tiin dan Zaitun
2. Demi Gunung Sinai.
3. dan demi negeri ( Makah ) yang aman ini
Spesifikasi Surat At-Tin
Surat At-Tin adalah surat ke-95 dalam urutan mushaf, termasuk
dalam golongan surat Makiyah, terdiri dari 8 ayat, 34 kalimat dan 150 huruf.
Surat ini diturunkan setelah surat al-Buruj. Penamaannya dengan surat at-Tin
karena Allah bersumpah pada permulaan surat dengan "Wat-Tin waz-Zaitun" dimana
dalam keduanya terdapat banyak kebaikan, manfaat, dan keberkahan.
Keutamaan Surat At-Tin
Al-Baidhawi dalam tafsirnya menuliskan sebuah hadis tentang
keutamaan surat ini, sebagai berikut:
عن النبي صلّى الله عليه وسلم: من قرأ سورة والتين أعطاه الله
العافية واليقين ما دام حياً،
فإذا مات أعطاه الله من
الأجر بعدد من قرأ هذه السورة
Artinya, :
"Dari Nabi saw "Barangsiapa membaca surat Wat Tin
maka Allah akan memberikan kesehatan dan keyakinan selama hidupnya; dan bila ia
telah mati, Allah akan memberikanya pahala sejumlah bilangan manusia yang
membaca surat ini".
(Nasiruddin as-Syairazi al-Baidhawi, Anwarut Tanzil
wa Asrart Ta'wil, [Beirut, Dar Al-Kutub Al-Islamiyah: 2009 M], juz
III, halaman 565).
Ragam Tafsir Surat At-Tin Ayat 1-3
Dalam surat ini Allah bersumpah dengan empat hal yakni,
at-Tin, az-Zaitun, Thurisin dan al-Balad al-Amin. Secara ringkas Imam
Jalaluddin al-Mahalli menjelaskan at-Tin dan az-Zaitun dengan dua
jenis makanan, atau dua bukit di daerah Syam yang menumbuhkan dua jenis makanan
tersebut. Imam Jalaluddin al-Mahalli hanya menyebutkan dua pendapat dari sekian
banyak pendapat tentang maksud dari at-Tin dan az-Zaitun.
Di antaranya at-Tin adalah masjid Nabi Nuh As,
Masjidil Haram, Masjid Dimsyik, sedangkan az-Zaitun adalah Masjidil AqsA,
Baitul Maqdis dan lain sebagainya. Kemudian "Thurisin"
merupakan gunung atau bukit tempat Allah berkata (berkalam) dengan Nabi Musa.
Makna (sinin) itu sendiri adalah yang diberkahi (al-Mubarak). Sedangkan maksud
"al-Balad al-Amin" adalah Makkah. (Ahmad bin Muhammad As-Shawi,
Tafsir Jalalain dan Hasyiyah As-Shawi, [Surabaya, Dar-Ilm], juz IV, halaman
443).
Ada penafsiran menarik dari Syekh Mustafa al-Maraghi. Ia menjelaskan, yang
dimaksud dengan "Wattiini" adalah Allah bersumpah dengan masa
Nabi Adam, bapak pertama manusia. Yaitu, masa dimana Nabi Adam As dan istrinya,
Hawa, mulai menutupi auratnya dengan daun-daun yang ada di surga. Sedangkan
"wazzaitun", Allah bersumpah dengan zaitun, yakni masa
Nabi Nuh As dan keturunannya saat Allah membinasakan keluarganya dengan banjir
bandang. Allah menyelamatkan Nabi Nuh As dalam perahunya. Kemudian setelah itu
sebagian burung-burung mendatanginya dengan membawa daun pohon zaitun. Nabi Nuh
pun merasa bahagia. Ia tahu bahwa kemurkaan Allah telah reda, dan Allah telah
memberikan izin kepada bumi untuk menelan air banjir bandang supaya bumi dapat
ditempati dan diramaikan manusia. Nabi Nuh pun melabuhkan kapal dan turun dari
kapal dengan anak-anaknya kemudian meramaikan bumi.
Hal
ini, diisyaratkan dengan firmanya "Wahaadzal baladil amiin" ,
yakni negara yang dimuliakan dengan kelahiran Rasul-Nya Muhammad saw dan
dimuliakan dengan Bait al-Haram atau ka'bah. Ringkasnya, Allah bersumpah
dengan empat masa yang terdapat bekas atau pengaruh yang tampak dalam sejarah
manusia. Dalam empat masa tersebut Allah menyelamatkan manusia dari gelap
gulita menuju cahaya yang terang benderang. Wallahu a'lam. (Ahmad bin
Mustafa al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, [Mesir: Matbaah Mustafa al-Baby
al-Halabi: 1365H/1946M], jus XXX, halaman 194).
Dengan demikian, ringkasnya al-Maraghi mengatakan bahwa
"Wattiini wazzaitun" keduanya disebutkan dengan dua masa, yakni masa
nabi Adam yang merupakan bapak manusia pertama, dan masanya Nabi Nuh yang
merupakan bapak manusia kedua.
Selanjutnya beliau menafsirkan "Watuurisiiniin"
Allah mengingatkan pada sesuatu yang terjadi di gunung tersebut, yakni tentang
tampaknya tanda-tanda bagi Nabi Musa dan kaumnya yang bersinar dengan
diturunkannya kitab Taurat. Tampaknya cahaya tauhid setelah bumi
dikotori dengan berhala. Para nabi setelah Musa selalu mengajak kaumnya
untuk berpegang teguh dengan syariat Allah. Setelah munculnya bid'ah, kemudian
datanglah Nabi Isa untuk membersihkan bid'ah yang dilakukan kaumnya.
Kaum Nabi Isa pun tidak jauh beda dengan kaum-kaum
sebelumnya. terjadi perselisihan paham agama dalam kaumnya, sehingga Allah
memberikan anugerah kepada manusia dengan munculmya masa cahaya Nabi Muhammad saw.
Sumber: https://islam.nu.or.id/tafsir/tafsir-surat-at-tin-ayat-1-3-terjemah-dan-keutamaannya-iZIoV
Posting Komentar